Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 29 September 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.
Pada malam-malam ketika manusia menatap langit dan melihat gugusan bintang yang membentang seperti puing-puing cahaya dari keabadian, selalu muncul pertanyaan yang tidak pernah benar-benar tua: apakah Tuhan hanya nama yang diberikan pada wilayah-wilayah gelap yang belum dapat diterangi sains? Di setiap zaman, ketidaktahuan manusia kerap melahirkan penjelasan metafisis. Ketika petir belum dipahami, ia dianggap suara para dewa. Ketika wabah belum dipahami, ia dipersepsikan sebagai murka langit. Dari sinilah lahir gagasan yang dikenal sebagai God of the Gaps, yaitu pandangan bahwa Tuhan ditempatkan pada celah-celah ketidaktahuan yang belum berhasil dijelaskan oleh ilmu pengetahuan (McGrath, 2019). “Ketika wilayah pengetahuan bertambah luas, celah ketidaktahuan cenderung menyempit.” (McGrath, 2019).
Argumen God of the Gaps menyatakan bahwa jika Tuhan dipakai hanya sebagai pengisi ruang kosong dalam pengetahuan manusia, maka keberadaan Tuhan akan semakin terdesak seiring kemajuan sains. Sejarah memang menunjukkan bahwa banyak fenomena yang dahulu dianggap misterius kini dapat dijelaskan secara alamiah melalui fisika, biologi, astronomi, maupun kedokteran. Oleh karena itu, sebagian filsuf dan ilmuwan berpendapat bahwa menjadikan Tuhan sebagai penjelasan atas hal yang belum diketahui merupakan posisi epistemologis yang rapuh dan rentan runtuh ketika bukti ilmiah baru ditemukan (Dawkins, 2006). “Penjelasan ilmiah terus berkembang melalui observasi, pengujian, dan koreksi berkelanjutan.” (Dawkins, 2006).
Namun demikian, kritik terhadap God of the Gaps tidak otomatis membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Banyak filsuf agama berargumen bahwa konsep Tuhan dalam tradisi teistik klasik tidak pernah dimaksudkan sebagai pengisi kekosongan pengetahuan ilmiah. Dalam tradisi filsafat Aristoteles, Thomas Aquinas, maupun filsafat Islam klasik, Tuhan dipahami sebagai dasar keberadaan itu sendiri, bukan sekadar jawaban sementara atas fenomena yang belum dipahami. Dalam kerangka ini, pertanyaan tentang Tuhan bukanlah “bagaimana petir terjadi?”, melainkan “mengapa ada realitas yang memungkinkan hukum-hukum alam bekerja?” (Feser, 2017). “Pertanyaan tentang eksistensi berbeda dari pertanyaan mengenai mekanisme.” (Feser, 2017).
Perdebatan kemudian bergeser dari laboratorium menuju ranah filsafat. Sains memiliki kapasitas luar biasa dalam menjelaskan proses dan hubungan sebab-akibat empiris, tetapi ia tidak dirancang untuk menetapkan makna, tujuan, atau nilai moral secara final. Pertanyaan seperti mengapa manusia harus berlaku adil, apakah kehidupan memiliki tujuan intrinsik, atau mengapa rasionalitas dapat dipercaya, berada di wilayah refleksi filosofis yang melampaui metode eksperimen. Karena itu, sejumlah pemikir kontemporer melihat hubungan sains dan agama bukan sebagai kompetisi, melainkan sebagai dialog antara dua cara memahami realitas yang berbeda namun dapat saling melengkapi (Polkinghorne, 2007). “Sains dan agama menjawab jenis pertanyaan yang tidak selalu identik.” (Polkinghorne, 2007).
Konklusinya, Tuhan mungkin menjadi “penjelasan sementara” apabila ia hanya digunakan untuk menutupi ketidaktahuan manusia terhadap fenomena alam. Akan tetapi, dalam tradisi filsafat teistik yang lebih mendalam, Tuhan tidak diposisikan sebagai jawaban sementara terhadap teka-teki ilmiah, melainkan sebagai pertanyaan fundamental mengenai asal-usul eksistensi, keteraturan semesta, kesadaran, dan makna keberadaan itu sendiri. “Kemajuan sains dapat menggugurkan penjelasan yang buruk tentang Tuhan, tetapi tidak serta-merta menggugurkan seluruh argumen filosofis mengenai Tuhan.” (Feser, 2017; McGrath, 2019).
Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesar bukanlah apakah Tuhan bersembunyi di balik celah-celah pengetahuan, melainkan apakah manusia cukup rendah hati untuk menyadari bahwa pengetahuan itu sendiri memiliki cakrawala yang tak bertepi. Sains adalah obor yang menerangi jalan, sementara pertanyaan tentang makna adalah kabut yang terus berjalan di depan cahaya itu. Semakin jauh kita melangkah, semakin banyak yang terungkap, tetapi mungkin juga semakin terasa luasnya misteri. Di titik itulah manusia berdiri, di antara kepastian dan kekaguman, di antara rumus dan keheningan, terus bertanya bukan hanya tentang bagaimana alam semesta bekerja, melainkan mengapa keberadaan itu sendiri terasa begitu ajaib. “Kebijaksanaan sering lahir ketika pengetahuan bertemu dengan kesadaran akan keterbatasannya.” (Polkinghorne, 2007).
------SELESAI------
Referensi:
• Dawkins, R. (2006). The God Delusion. London, England: Bantam Press.
• Feser, E. (2017). Five Proofs of the Existence of God. San Francisco, CA: Ignatius Press.
• McGrath, A. E. (2019). The Territories of Human Reason: Science and Theology in an Age of Multiple Rationalities. Oxford, England: Oxford University Press.
• Polkinghorne, J. (2007). Quantum Physics and Theology: An Unexpected Kinship. New Haven, CT: Yale University Press.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis

0 Komentar