UPDATE 24JAM NGAWI - Geliat wisata budaya kembali menyelimuti Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi pada Selasa (15/9/2026). Ribuan pasang mata menjadi saksi penyelenggaraan tradisi tahunan Keduk Beji yang dipusatkan di Sendang Beji, area Taman Wisata Tawun. Ritual adat ini tak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga wujud nyata ruang pelestarian warisan leluhur serta kearifan lokal yang masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat.
Kegiatan bernilai sejarah ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, yang hadir di tengah-tengah warga. Pria yang akrab disapa Antok tersebut memuji konsistensi Pemerintah Desa Tawun, para tokoh adat, serta seluruh elemen warga yang tanpa lelah menjaga tradisi penyuci sumber air tersebut secara turun-temurun. Ia menegaskan bahwa komitmen bersama inilah yang menjadi kunci utama agar identitas budaya daerah tidak tergerus oleh zaman.
Selain dimensi spiritual dan kebudayaan, Antok menekankan pentingnya menjaga keselarasan alam di sekitar kawasan Sendang Beji. Menurutnya, pemeliharaan tanaman dan penghijauan di area sumber mata air merupakan langkah krusial yang tidak boleh terpisahkan dari ritual ini. Upaya konservasi lingkungan hidup sangat diperlukan agar fungsi ekologis kawasan wisata alam tersebut tetap terjaga dengan baik demi generasi mendatang.
Melihat tingginya daya tarik acara ini, Antok optimistis Keduk Beji memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya unggulan. Potensi tersebut semakin menguat berkat sinergi dengan agenda rutin Minggu Legi yang secara konsisten menghadirkan pertunjukan seni tradisi, perputaran ekonomi UMKM, serta jajanan kuliner lokal yang selalu berhasil memikat antusiasme wisatawan dari dalam maupun luar Ngawi.
Sementara itu, Kepala Desa Tawun, Purahaman, memaparkan bahwa ritual Keduk Beji merupakan hajatan besar yang mengaitkan seluruh warga dari wilayah Tawun 1 hingga Tawun 4. Prosesi ini tidak dilakukan secara mendadak, melainkan melalui serangkaian tahapan adat yang panjang dan penuh makna kebersamaan antardusun.
Rangkaian ritual adat diawali dengan kenduri serta doa bersama untuk menghormati para leluhur, dilanjutkan dengan prosesi nyekar dan doa di Makam Sentono. Tak berhenti di situ, warga juga bergotong royong membuat gunungan hasil bumi, menggelar alunan musik tradisional uyon-uyon, hingga akhirnya bermuara pada puncak ritual pembersihan atau pengerukan di Sendang Beji.
Semarak pelaksanaan Keduk Beji pada akhirnya memberikan dampak positif yang nyata bagi kesejahteraan warga sekitar melalui pergerakan roda ekonomi lokal. Pada akhirnya, tradisi ini membuktikan peran ganda yang sangat vital: menjadi wadah penajaman ingatan akan sejarah budaya bangsa, sekaligus pelindung utama bagi kelestarian alam dan sumber air di Ngawi. ( BeeMush )

0 Komentar