Breaking News

BERTANYA DAN MEMPERTANYAKAN

Bersama: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 16 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.

Dalam kesunyian pikiran, manusia berdiri di antara dua gerak yang tampak sederhana namun menentukan arah sejarah peradabannya: bertanya dan mempertanyakan. Bertanya adalah nyala pertama dari kesadaran — keinginan untuk mengetahui, untuk menyingkap tabir ketidaktahuan. Mempertanyakan adalah api yang lebih dalam — keberanian untuk menggali, menelisik, dan menantang pengetahuan yang telah diperoleh. “Bertanya adalah langkah menuju pengetahuan; mempertanyakan adalah langkah menuju kebijaksanaan,” (Heidegger, 1927). Di sinilah filsafat lahir: dari keberanian manusia untuk tidak berhenti pada jawaban, melainkan terus menelusuri makna di baliknya.

Dalam epistemologi, bertanya adalah gerak awal dari proses knowing, sedangkan mempertanyakan adalah bentuk refleksi kritis terhadap knowledge yang sudah ada. “Filsafat dimulai ketika manusia mulai mempertanyakan apa yang dianggap pasti,” (Russell, 1945). Bertanya melahirkan ilmu; mempertanyakan melahirkan kebijaksanaan. Tanpa keduanya, manusia hanya menjadi penghafal jawaban, kolektor pengetahuan, pemain akrobat ilmu, bukan pencari makna, bukan pula pemaju dan pemacu peradaban.

Psikologi kognitif modern menegaskan bahwa kemampuan bertanya dan mempertanyakan adalah inti dari berpikir kritis. “Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan, lalu mencermati dan menilai jawaban secara reflektif merupakan dasar dari pembelajaran yang mendalam,” (King, 1994). Bertanya membuka pintu informasi; mempertanyakan memastikan bahwa informasi itu bermakna dan benar, serta berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Dalam konteks pendidikan, keduanya menjadi fondasi bagi pembentukan nalar yang bebas dan rasional.

Dalam sejarah peradaban, filsafat menjadi akar dari setiap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Setiap revolusi ilmiah dimulai dari pertanyaan filosofis tentang hakikat realitas,” (Kuhn, 1962). Dari pertanyaan tentang gerak benda, lahir fisika; dari pertanyaan tentang kehidupan, lahir biologi; dari pertanyaan tentang pikiran, lahir psikologi dan kecerdasan buatan. Filsafat adalah bibit yang menumbuhkan seluruh pohon ilmu pengetahuan manusia.

Konklusinya, bertanya dan mempertanyakan bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan tindakan eksistensial. “Manusia menjadi manusia karena ia mampu bertanya tentang dirinya sendiri,” (Socrates, dalam Plato, Apology). Ketika manusia berhenti bertanya, ia berhenti tumbuh; ketika ia berhenti mempertanyakan, ia berhenti memahami.

Pada akhirnya, hidup adalah dialog abadi antara pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan membuat kita bergerak, mempertanyakan membuat kita menyelam-mendalam. Di antara keduanya, manusia menemukan makna keberadaannya — bukan dalam kepastian, tetapi dalam pencarian yang tak pernah selesai, dalam pertanyaan yang tak akan usai. Dan itulah penjaga nyala api peradaban.


Referensi:
• Heidegger, M. (1927). Being and Time. Harper & Row. • Russell, B. (1945). A History of Western Philosophy. Simon & Schuster. • King, A. (1994). Guiding knowledge construction in the classroom: Effects of teaching children to question. American Educational Research Journal. • Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. University of Chicago Press. • Plato. (399 BCE). Apology.
=============================
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
=============================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis

0 Komentar

© Copyright 2026 - UPDATE24JAM.ID