Breaking News

Terjepit Industri Hebel, Kampung Bata Merah Banaran Kini Diambang Kepunahan


UPDATE 24JAM SRAGEN— Kenangan akan kejayaan Dukuh Kiping Desa Banaran Kecamatan Sambungmacan sebagai kampung sentra pengrajin batu bata merah kini perlahan mulai pudar, Kamis ( 18/06/2026).  Wilayah yang dulunya riuh oleh aktivitas pembakaran dan hampir di setiap pekarangan rumah warga dipenuhi tumpukan tanah liat, kini tampak sepi dan lengang.Modernisasi material bangunan secara perlahan namun pasti telah mengubah wajah desa ini, menyisakan kepulan asap pembakaran yang makin jarang terlihat.

Perubahan drastis ini terlihat dari merosotnya jumlah produsen lokal secara signifikan. Dari puluhan kepala keluarga yang dulunya menggantungkan hidup sebagai pembuat batu bata konvensional, kini hanya tersisa 8 pengrajin saja di seluruh desa.  Ironisnya, dari jumlah yang segelintir tersebut, hanya beberapa pengrajin saja yang terpantau masih aktif berproduksi, sementara sisanya memilih membiarkan tempat pembakaran mereka terbengkalai.

Faktor utama yang memicu eksodus massal para pengrajin ini adalah berdirinya sebuah pabrik bata ringan atau hebel berskala besar yang berada tepat di satu kelurahan di Desa Banaran. Kehadiran pabrik modern yang menjadi kompetitor langsung di tanah mereka sendiri menimbulkan ketakutan massal di kalangan warga. Khawatir hasil produksi tradisional mereka tidak akan laku terjual dan kalah saing dalam hal efisiensi, mayoritas warga akhirnya memilih gulung tikar dan meninggalkan profesi turun-temurun ini.

Salah satu dari sedikit pengrajin yang masih bertahan adalah Karmi, seorang wanita berusia 58 tahun yang setia bergelut bersama suaminya dengan tanah liat demi menyambung hidup. Dengan guratan lelah di wajahnya, Karmi menceritakan bagaimana kecemasan telah mengikis keberanian tetangga-tetangganya untuk tetap bertahan memproduksi bata merah. 

 "Dulu kanan-kiri rumah semuanya bikin bata, Mas, kampung ini hidup sekali. Tapi sejak ada pabrik hebel berdiri dekat sini, warga langsung ciut jalannya, takut batanya enggak laku lalu merugi modal. Kalau saya ya nekat bertahan sebisanya, karena cuma ini keahlian yang saya punya untuk makan sehari-hari," tutur Karmi saat ditemui di sela-sela aktivitas mencetak bata.

Di saat jumlah pengrajin menyusut tajam hingga menyisakan hitungan jari, permintaan pasar terhadap batu bata merah konvensional sebenarnya masih sangat tinggi. Kurangnya pasokan lokal membuat pembeli harus berebut, meskipun untuk saat ini harga batu bata merah dipatok Rp 600.000 per 1.000 biji. Harga tersebut merupakan tarif bersih di tempat produksi, belum termasuk biaya angkut (ongkir) serta ongkos bongkar muatan di lokasi tujuan.

Kelangkaan pengrajin ini diprediksi akan semakin parah dalam beberapa tahun ke depan akibat terputusnya proses regenerasi. Ketakutan akan kalah saing dari industri hebel membuat generasi muda di Desa Banaran enggan menyentuh usaha tanah liat ini. Mereka lebih memilih merantau ke kota atau mencari pekerjaan kasar lainnya ketimbang meneruskan estafet usaha orang tua mereka yang dinilai penuh ketidakpastian di tengah gempuran industri modern. 

Menggunakan Bata merah lebih sehat untuk udara di dalam rumah dan menyerap udara panas yang tidak dimiliki oleh hebel dan mengurangi dampak alergi. ( BeeMush )

0 Komentar

© Copyright 2026 - UPDATE24JAM.ID