UPDATE 24JAM SRAGEN -- Lengkapi pelayanan pasien RSUD dr. Soeratno Gemolong terus menambah fasilitas pelayanan, kali ini sarana penunjang pelayanan spiritual yang ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan masjid oleh Bupati Sragen Sigit Pamungkas, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Suroto, Ketua TP PKK Kabupaten Sragen Ny. Linda Sigit Pamungkas, Sekda, dr. Hargiyanto, Direktur Utama RSUD dr. Soeratno Gemolong dr. Kinik Darsono, Kepala OPD terkait, pegawai RSUD Gemolong, hingga warga setempat.
Dirut RSUD dr. Soeratno Gemolong dr. Kinik Darsono menyampaikan bahwa masjid yang akan dibangun direncanakan terdiri dari dua lantai dengan luas 288 meter persegi dan total anggaran sekitar Rp2,5 miliar.
Ia menambahkan, pembangunan masjid ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien dan keluarga.
“Pasien yang datang belum tentu pulang, maka kami ingin memastikan kebutuhan fisik dan rohaninya terpenuhi. Harapannya, semua dalam kondisi husnul khatimah,” ungkapnya.
Selain itu, RSUD Gemolong juga telah tersertifikasi halal sebagai bentuk pelayanan menyeluruh kepada masyarakat.
Dr. Kinik berharap pembangunan masjid dapat berjalan lancar dan segera selesai. Ia juga memohon kesediaan Bupati Sragen untuk memberikan nama bagi masjid tersebut setelah rampung dibangun.
“Semoga pembangunan ini dimudahkan dan membawa keberkahan bagi kita semua,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam sambutannya Bupati Sigit menegaskan bahwa peletakan batu pertama bukanlah simbol pekerjaan tunggal, melainkan awal dari proses panjang hingga pembangunan masjid selesai.
“Kalau peletakan batu pertama berarti nanti ada kedua, ketiga, dan seterusnya sampai selesai. Ini adalah awal dari rangkaian pembangunan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid tersebut, yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp2,2 miliar hingga Rp2,5 miliar. Hingga saat ini, dana yang telah terkumpul mencapai Rp375 juta.
Bupati Sigit menekankan pentingnya pendekatan komunikasi dalam penggalangan dana. Menurutnya, penyampaian berupa “pemberitahuan pembangunan” akan lebih baik dibandingkan “permohonan bantuan” karena tidak menimbulkan tekanan psikologis bagi pihak yang diajak berpartisipasi.
“Kalau pemberitahuan, orang jadi lebih ikhlas. Tapi kalau permohonan bantuan, kesannya seperti harus memberi. Ini hal kecil, tapi berpengaruh,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bupati juga mendorong agar masjid nantinya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki kemandirian melalui berbagai amal usaha, sehingga operasionalnya tidak hanya bergantung pada infaq. ( Bisyri )
