UPDATE 24JAM SRAGEN– Dinilai Musrenbang hanya Formalitas mendapatkan kritik pedas mewarnai audiensi antara Gerakan Pembaharu Sragen (GPS) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sragen Rabu (6/5/2026)
Para aktivis menuding pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) selama ini terkesan sekadar formalitas dan kurang menyentuh akar rumput, terutama kelompok masyarakat miskin dan pemuda.
Anggota GPS, Andang Basuki, menyoroti durasi pelaksanaan Musrenbang yang dinilai terlalu singkat. Menurutnya, waktu yang mepet mustahil menghasilkan perencanaan pembangunan yang matang dan inklusif.
"Kalau orang miskin tidak terlibat, di level desa saja jarang, apalagi sampai tingkat kecamatan atau kabupaten. Partisipasi mereka dalam perencanaan masih sangat minim, padahal mereka yang paling merasakan dampak kebijakan," ujar Andang.
Dia membandingkan pola perencanaan saat ini dengan masa lalu, di mana pembahasan dilakukan secara mendalam per komisi untuk memastikan setiap aspirasi terwadahi. "Ada 14 variabel kemiskinan yang sering didiskusikan di ruang rapat, tapi suara orang miskinnya sendiri mana? Minimal ada perwakilan yang benar-benar didengar," tegasnya.
Meski mengkritik, Andang mengaku tetap mengapresiasi adanya penurunan angka kemiskinan di Bumi Sukowati.
Nada kecewa juga datang dari Sri Wahono, anggota GPS lainnya. Ia membeberkan ironi yang terjadi di wilayahnya, khususnya terkait akses jalan Ngrombo-Jekawal. Wilayah tersebut sejatinya menyabet prestasi dalam ketaatan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), namun usulan perbaikan jalan sejak 2017 tak kunjung terealisasi.
"Kami unggul soal bayar pajak, tapi pengajuan pembangunan jalan dari 2017 sampai sekarang zonk. Belum lagi soal gorong-gorong DPU yang akhirnya malah dibangun pakai dana desa. Kami butuh respon cepat, bukan sekadar janji," keluh Wahono.
Tak hanya infrastruktur fisik, Wahono juga menyentil minimnya perhatian terhadap kepemudaan. Absennya pelibatan pemuda dalam forum resmi dan kurangnya fasilitas olahraga seperti lapangan, dinilai menjadi biang keladi minimnya prestasi anak muda di Sragen. "Harapan kami, Musrenbang 2027 benar-benar mengakomodasi semua kepentingan, jangan ada yang ditinggal," imbuhnya.
Menanggapi "hujan" kritik tersebut, Kepala Bapperida Sragen, Dwiyanto, menyambut baik masukan dari GPS. Ia mengakui adanya sejumlah kendala dalam dua tahun terakhir, terutama terkait fluktuasi anggaran.
"Dua tahun terakhir ada penyesuaian anggaran yang cukup signifikan. Dana transfer banyak yang dialihkan untuk mendukung program prioritas pemerintah pusat," jelas Dwiyanto.
Dia menjelaskan bahwa proses perencanaan sebenarnya telah dilakukan secara berjenjang melalui berbagai desk, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten. Dwiyanto memastikan bahwa aspirasi melalui audiensi ini akan masuk dalam kanal partisipatif untuk perencanaan tahun 2027 yang akan difinalisasi pada Juni mendatang.
"Penanganan kemiskinan tetap menjadi program unggulan kami. Masukan-masukan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kami untuk memperbaiki kualitas partisipasi publik ke depan," pungkasnya. ( BeeMush )
